Tags

, , ,

oleh: Muhammad Ihsan Zainuddin

Sekarang ini, selebritis pun berlomba-lomba untuk menjadi penggemar buku dan menunjukkan pada public, ‘wow, akupun seorang kutu buku!’. Apakah kegemaran pada buku telah menjadi semacam komoditas pngangkat gengsi manusia modern? Nampaknya itulah yang sedang terjadi. Orang-orang kemudian lebih merasa cool jika –disamping mewujud sebagai pribadi yang Cosmo– juga tampil sebagai sosok ’pemamah’ buku. Salahkah ini? Tidak juga. Setidaknya sebagai sebuah awal mereguk aneka manfaat yang tersimpan dalam lemba-lembar setiap buku. Sekali lagi, sebagai sebuah langkah awal. Dan itu berarti bahwa seharusnya para pecinta buku harus memikirkan: what the next?

 

Saya sendiri terus merenungkan itu. Hingga di suatu pagi, saya membuka-buka salah satu karya dai semilyar umat, Syeikh DR. Aidh Al-Qarni –yang melejit melalui La Tahzan-nya yang fenomenal- yang berjudul Hakadza Haddatsana az Zaman. Tepat di halaman 12 edisi asli buku itu, ia menuliskan sebuah tulisan pendek yang diberi judul, Perpustakaan Kongres. Berikut ini saya kutipkan kalimat-kalimat yang ia tuangkan di halaman itu:

Tepat di tahun 1410 H, saya berkesempatn mengunjungi dan memasuki Perpustakaan Kongres di Washington. Di sana saya melihat ’pegunungan’ buku dalam berbagai ilmu, ranah dan spesialisasi. Kami meminta kepada petugasnya –yang kebetulan dari Mesir- untuk memberikan kami sebuah buku yang tidak terlalu terkenal. Ia pun menekan tuts komputernya, dan tidak lama kemudian ia memberitahu kami di mana letak buku itu.

Saat saya melihat ratusan ribu buku itu, saya pun tertegun. Betapa ratusan buku itu tidak mampu membimbing bangsa Amerika menuju Allah. Buku-buku itu tidak mampu menuntun mereka mengenali keagungan-Nya, dan tidak mengantar mereka menjemput cahaya-Nya. ’Mereka mengetahui kenikmatan dunia yang zhahir, namun lalai terhadap akhirat”.

Maka jika anda melihat seseorang memiliki sebuah perpustakaan yang besar, maka jangan merasa iri padanya hingga anda melihat amal, keistiqamahan dan pemanfaatannya terhadap semua pengetahuan itu. Apakah buku-buku memberikan manfaat yg positif untuknya atau tidak? Menurut saya, bila seseorang hanya memiliki sebuah mushaf Al-Qur’an yang ia tadabburi dan amalkan, itu jauh lebih baik dibandingkan seseorang yang menyimpan ratusan jilid buku dan menyibukkan diri dengannya, namun sama sekali tidak memberi manfaat untuknya.

Tentu hal ini sudah dimaklumi bersama, namun sekadar mengingatkan: ’Perumpamaan orang-orang yang dibebani Taurat namun mereka tidak mengamalkannya, itu seperti keledai yang membawa setumpuk buku’. Seperti unta di padang sahara terancam mati kehausan padahal air terangkut di atas punggungnya.

Wuih! Bukankah kenyataan itu seringkali terlewatkan dalam keseharian kita? Orang sering bangga dengan koleksi bukunya yg memenuhi rak-rak yang membentang hingga sudut-sudut ruang. Dan kita pun sering terkagum-kagum di depan koleksi buku orang lain yang nyaris menyentuh plafon rumahnya. Tapi sayang sekali, kita jarang menyelidiki lebih jauh: berhasilkah tumpukan buku-buku itu menuntunnya ke jalan yang lurus? Bertambahkah hidayah Allah padanya setelah sekian lama ia melewati lembar dem lembar kita-kitabnya? Kebahagiaan jiwa itu, adakah tersemai dalam jiwanya?

Saya jadi teringat ungkapan Ibnu Taimiyah pada suatu ketika: ”Jangan engkau memperbanyak hujjah-hujjah yang hanya memperberat hisabmu di Hari Kiamat!”. kalimat itu dikatakannya untuk siapa saja yang menyimpan ’nafsu’ luar biasa untuk mengoleksi buku. Semakin banyak yang kita baca, semakin banyak yang kita ketahui. Dan semakin banyak  yang kita ketahui, semestinya semakin banyak pula yang kita amalkan. Jadi, di sinilah letak persoalannya; yaitu ketika ilmu itu tidak diamalkan, maka kelak pasti akan ditanyakan di Hari Akhir. Bila demikian, bukankah buku-buku itu hanya membawa petaka buat kita. Mudah-mudahan anda paham maksudnya…

Ah, tapi maaf beribu maaf, saya tidak bermaksud mematikan ’nafsu’ anda pada buku. Sama sekali tidak. ’Nafsu’ itu sendiri tidak salah. Yang salah adalah jika ia hanya terhenti pada setakat ’nafsu’, tapi tidak berlanjut menjadi amal. Itu saja.

 

Diketik ulang dari Majalah Al Bashirah 05 tahun II 1428 H/2007 M