Tags

, , ,

Rasanya sulit dibayangkan, anak-anak tidak menunjukkan kegilaan yang besar pada televisi jika televisi dimatikan dirumah, sementara dalam setiap perbincangan, kita menunjukkan antusiasme yang sangat besar terhadap televisi, acara-acara televisi dan bintang-binang televisi. Jadi, mematikan pesawat televisi harus disertai dengan kesungguhan untuk mematkan televisi di hati kita!

Khusus berkait dengan kapan kita menyela keasyikan anak melihat televisi, ada yang kerap membuat saya sedih, meski hingga hari ini saya dan istri sepakat tidak memelihara televisi di rumah. Saya melihat, kerap kali pada waktu berkumandangnya azan magrib, televisi justru sedang menayangkan film yang sangat menarik buat anak. Mereka sedang benar-benar terlibat secara emosional dengan apa yang dilihatnya. Tetapi justu di puncak keasyikan itu, orang tua merusak keasyikan anak dengan mengajaknya melakukan shalat. Ini membuat anak jengkel, tetapi sepertinya “tidak ada pilihan lain”.

Jika keadaan ini terus menerus terjadi, akibatnya secara psikis bisa muncul apa yang disebut sebagai associative shifting. Anak memiliki asosiasi yang buruk terhadap azan. Pada awalnya anak menganggap azan sebagai gangguan, dan pada gilirannya kelak bisa terjadi asosiasi agama sebagai sumber kejumudan, kekakuan dan keterbelakangan. Na’udzu billahi min dzalik.

Itu sebabnya, saya pernah menulis bahwa perilaku kekerasan merupakan dampak yang paling ringan –dan tidak perlu terlalu dirisaukan- dari televisi. Inilah dampak yang paling kecil, tetapi sekaligus paling dirisaukan oleh orangtua, meski banyak dari mereka yang tidak terlalu merisaukan. Pengaruh tayangan kekerasan sangat mudah dilihat dampaknya dan karena itu imsyaAllah akan lebih mudah menanganinya. Sejauh pengaruh itu berupa perilaku kekerasan, kita mudah menangkap gejalanya. Tetapi, dampak yang berupa desentiasi –tumpulnya kepekaan- kerap kali kita abaikan. Atau jangan-jangan kita memang tidak tahu bahwa itu tejadi. Salah satu bentuk desentiasi adalah hilangnya empati, rasa sedih dan sekurang-kurangnya penilaian buruk terhadap berbagai penderitaan maupun tindak kekejian. Hari ini, kita rasakan, banyak dari kita yang justru menikmati penderitaan dan kejahatan. Kita membicarakannya dengan asyik, seasyik penyiar televisi menyampaikan informasinya.

Dan inilah justru bahaya yang sangat besar itu!

Ada lagi yang lebih mengkhawatirkan: eikonoklasme. Kita dan khususnya anak-anak menjadikan televisi sebagai ikon yang harus diikuti setiap perimtah dan larangannya. Apa yang menurut televisi baik, itu pula yang kita katakan baik. Seluruh yang kita pelajari dari agama menjadi pengetahuan untuk pembenaran. Sedangkan yang kita hayati dan ikuti setiap hari adalah ucapan para penyiar televisi.

Rasa-rasanya, ada benarnya juga ketika ada  yang mengatakan bahwa televisi sekarang ini sudah bukan lagi menjadi The Second God (Tuhan Kedua), melainkan sudah menjadi The First God (Tuhan Pertama). Ia lebih ditaati manusia dari pada Tuhan Yang Maha Menciptakan.

Diketik dari: Positive Parenting, Mohammad Fauzil Adhim, Mizania, September 2006