Tags

, ,

Pagi hari menggunakan angkutan umum menuju kantor selalu menjadi sarana pengingat diri yang sangat baik bagi saya. Menjadi jembatan muhasabah yang sangat manjur.

Kurang lebih dua puluh menit perjalanan dari rumah, silih berganti penumpang yang naik dan turun. Ada anak sekolah yang kelihatannya sangat tergesa memburu waktu, mungkinkah dia terlambat bangun hari ini, ataukah dia harus terlebih dahulu membantu orangtuanya sebelum ke sekolah, ataukah harus bekerja terlebih dahulu seperti yang pernah saya lihat di televisi?

Ada dua anak kecil perpakaian sangat lusuh dan kotor. Sebelum naik angkot, mereka terlebih dahulu bertanya kepada sopir, apakah mereka boleh menumpang atau tidak. Mereka memperlihatkan beberapa uang receh yang ada di genggaman mereka kepada pak sopir. Ooh, ternyata mereka hanya mempunyai uang tersebut untuk ongkosnya. Apakah mereka tidak sekolah, di mana orang tua mereka, akan ke mana mereka, apa yang akan dikerjakannya?

Ada pula ibu yang membawa keranjang menuju pasar sambil menggendong anaknya yang masih kecil. Mungkin ibu ini tidak mempunyai pembantu di rumah sehingga harus membawa anak kecilnya ikut ke pasar. Di kepalanya pun mungkin sedang berkelebat mengenai barang-barang yang akan dia beli menyesuaikan uang yang tersisa.

Di sisi jalan, tiga orang remaja beranjak dewasa sedang berjalan kaki dengan tawa yang tersungging di bibir mereka. Mereka nampaknya mahasiswa. Kelihatannya bahagia…, meskipun harus berjalan kaki berpanas-panasan. Ah, saya teringat biaya sekolah dan kuliah yang semakin hari semakin mahal… Mereka beruntung masih dapat berkuliah.

Ketika tiba di kantor, rasanya saya menjadi orang yang sangat beruntung. Mempunyai pekerjaan dan penghasilan yang sangat lumayan jumlahnya.  Keluarga yang bahagia, istri yang cantik dan solehah, anak yang lucu, dan sedang menunggu kelahiran anak yang kedua. Alhamdulillah…

Maka pekerjaan pun kini rasanya menjadi berkah yang luar biasa, melaksanakannya pun telah menjadi ibadah untuk memberikan nafkah yang halal bagi keluarga. Setiap lembaran-lembaran kertas print selalu mengingatkan saya kepada mozaik kehidupan orang lain yang mungkin tidak merasakan nikmat ini, setiap menekan tuts-tuts komputer mengingatkan saya kepada keluarga di rumah, orang tua yang telah mendidik dan menyekolahkan saya.

Akan sangat kufur nikmat rasanya jika pekerjaan yang telah diberikan ini saya sia-siakan, tidak saya kerjakan sebagaimana mestinya. 

Bukankah pekerjaan itu juga adalah amanah? Bukankah hidup itu adalah amanah?