Ada teman yang berkata: nggak usah terlalu banyak tahu masalah agama, ikut kajian, pangajian, dengar ceramah…, karena bila sudah tahu hukumnya, terus tidak dilaksanakan, jadinya dosa.

Maksudnya mungkin…, karena agama mempunyai perintah dan larangan, dari pada banyak tahu apa saja yang dilarang agama –mau dikerjakan tapi takut dosa, tidak dikerjakan padahal ‘nikmat’- maka lebih baik tidak tahu dan kalo tetap mengerjakan larangan tersebut dihukumi ‘tidak mengetahui’ dan hukumnya: tidak berdosa.

Benarkah? Wallahu a’lam, mungkin ada benarnya…tapi…

Tapi yang mungkin harus disadari adalah kalaupun kita terbebas dari hukum dosa karena ketidaktahuan kita, kita akan dimintai pertanggungjawaban mengenai ketidaktahuan kita. Ya, mengapa sampai kita tidak mengetahui perkara-perkara agama kita sendiri.

Bukankah kita sudah diberi nikmat umur yang seharusnya dapat kita manfaatkan untuk belajar, mengaji, mengkaji mengenai agama kita. Bukankah kita telah dibekali dengan akal fikiran dan jiwa untuk dapat berfikir mengenai tanda-tanda kekuasaan-Nya?

Fasilitas belajarpun rasanya belajarpun rasanya bukan lagi menjadi hambatan. Sangat banyak perpustakaan yang berisi ribuan buku, media cetak maupun elektronik –walaupun jumlahnya sangat-sangat terbatas- juga menyajikan pengajaran masalah dien kita. Belum lagi, internet yang menyediakan berjuta informasi, e-book, dan sebagainya.

Yang paling dekat dari kita, di rumah pastilah ada Al-Quran dan (+ terjemahannya?) yang sudah sangat cukup untuk kita pedomani dalam beragama.

Firman Allah: ”Itulah kitab (Al-Quran) yang tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa”

Sabda Nabi: ”Aku tinggalkan dua hal yang jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya: Kitabullah (Al-Quran) dan Sunnahku”

Jadi.., seharusnya kita tahu bukan?