Dalam industri jasa, kata ‘terima kasih’ menjadi salah satu dari 3 magic word. Ini menunjukkan betapa dahsyat efek dari kata terima kasih tersebut.

Dulu, kita mengucapkan terima kasih ketika kita diberi bantuan oleh orang lain. Tapi kini, orang yang memberi bantuanpun akan mengucapkan terima kasih. Lihat saja para karyawan bank yang setelah kita dibantu untuk melakukan transaksi –atapun sekadar complain- selalu mengucapkan terima kasih. Dengar juga para caroline officer Call Centre Telkomsel, setelah membantu apa yang kita butuhkan, akan mengucapkan terima kasih telah menghubungi mereka bahkan sebelum itu, merekapun menawarkan bantuan apa lagi yang bisa diberikan.

Terlepas dari strategi pelayanan yang mengutamakan kualitas layanan, ternyata kata ’terima kasih’ sekarang sudah semakin luas lingkup penggunannya. Ia bukan sekadar menjadi ucapan penghargaan  tapi juga menjadi ucapan yang memberi penghormatan kepada seseorang.

Tidak heran pula hampir setiap bahasa, mempunyai padanan kata yang berarti ’terima kasih’. Thank you, syukran, dll dapat menjadi contoh. Saya katakan hampir, sebab setahu saya, bahasa Mandar –bahasa daerah saya- tidak mempunyai padanan kata untuk terima kasih. Bagaimana dengan bahasa daerah anda?

Apakah karena di tanah sulawesi barat ini, orang tidak mempunyai budaya untuk memberikan penghargaan kepada orang yang telah membantunya? Apakah tingkat kebudayaan nenek moyang orang mandar dulu tidak seberbudaya suku – bangsa lain?

Ternyata tidak seperti itu,

Seorang guru saya waktu di sekolah dulu mengatakan, orang Mandar kalau ingin berterima kasih, memang tidak dengan ucapan tapi dengan perbuatan. Contoh kecil, jika seseorang mendapatkan bantuan dari orang lain, ia akan dengan sekuat tenaga memberikan bantuan yang sama kepada orang tersebut di lain waktu, mungkin juga memberikan sesuatu yang dianggap setara dengan bantuan yang diberikan kepadanya.

Mereka berterima kasih tidak dengan kata-kata tetapi dengan perbuatan. Apakah itu lebih berbudaya dari meraka yang hanya memberikan penghargaan berupa ucapan saja –biasanya setelah ucapan terima kasih, utang budi sudah terasa berkurang, lebih sering dilupakan– tergantung dari siapa anda dan dari sudut mana anda menilainya.

Tapi toh sekarang masyarakat Mandar sekarang mempunyai kata untuk berterima kasih: tarima kasi’. Bahasa Indonesia yang dimandarkan J.

Akhirnya, nilai penghormatan dan penghargaan berada pada hati kita. Jangan sampai mulut mengucapkan terima kasih tapi bertolak belakang dengan apa yang ada dalam hati kita. Kata Aa Gym: Jagalah hati, jangan kau kotori, jagalah hati, cahaya Ilahi. Terahir: banyak-banyaklah berterim kasih.