Tags

, , , , ,

Oleh: Poppy Dian

Setiap wajah punya cerita. Setiap wajah mempunyai kesan yang berbeda. Ini pendapatku. Karena sebagian wajah yang kutemui memang bercerita tentang dirinya. Sebagian yang tidak bercerita, memberikan kesan melalui mimik mukanya. Sebagian yang lain, imajinasiku yang bercerita tentang mereka, dan sebagian sisanya, aku tidak perduli…mungkin.

Sembilan tahun yang lalu tepatnya. Aku masih ingat suasana tenang klinik bersalin itu. Klinik bersalin sederhana yang terletak di pinggir kota Jakarta.

Sebenarnya bangunan ini adalah sebuah rumah yang disulap menjadi klinik oleh pemiliknya. Luasnya kira kira hanya 140meter persegi dengan teras yang sempit. Untuk samapai kesana, aku harus berjalan kaki sekitar 500m melewati deretan panjang rumah sederhana dengan atap seng yang sudah berkarat di pinggirannya.

Sepertinya klinik ini diperuntukkan untuk mereka, masyarakat pinggiran. Saban hari selepas ashar, banyak ibu ibu duduk berbaris diruang tunggu. Mereka tidak semuanya hamil, ada juga yang mau berKB atau hanya sekedar check up.Ibu ibu dengan daster seadanya itu biasanya datang tidak sendiri. Mereka diantar oleh suaminya yang hanya bisa menunggu di luar pagar. Maklumlah, dengan ruang tunggu yang hanya 4X4meter tidak akan mampu menampung sekitar 25 ibu berserta suaminya.

Sedangkan di ruang tengah klinik, ada ruangan untuk berrsalinan, dan hanya berbatasan dengan tembok tripleks yang dicat putih, berjejer 8 ranjang yang diberi sekat tirai kain blacu sebagai ruang rawat inap. Selebihnya adalah dapur, kamar mandi dan kamar untuk perawat seperti aku.

Ibu bidan tidak tinggal di klinik. Ia dan keluarganya tinggal di sebuah rumah sekitar 3 km dari klinik. Ini yang membuat aku dan perawat yang lain kadang kelimpungan. Pasien hampir tidak pernah berhenti datang. Tidak perduli jam 2 subuh kalau sudah ada tanda tanda mau melahirkan, mereka akan mengetuk pintu dengan sekeras kerasnya. Sebenarnya aku dan teman teman perawat yang lain mampu menangani persalinan normal dan masalah masalah kecil lainnya. Tapi terkadang si pasien hanya mau ditangani oleh ibu bidan. Naasnya, bidan yang mereka harapkan sering tidak mau menerima telfon selepas jam sepuluh malam. Padahal menurut si pasien, ibu bidan berjanji siap siaga 24jam  untuk mereka.

“Saya capek. Saya bukan robot. Saya butuh istirahat…” kata kata itu yang selalu ibu bidan lontarkan ketika kami mengeluh.

“Lalu, ibu bidan anggap kami apa? Kami berjaga 24 jam di klinik anda…”Pertanyaan itu juga yang selalu ingin kami lontarkan kepadanya setiap kami merasa lelah di posisi serba salah. Yah, tapi pertanyaan itu hanya jadi bahan gosip belaka diantara kami.

Saat Ramadhan tiba adalah saat yang paling sengsara. Ibu bidan tambah jarang di klinik dan nyaris tidak mau tahu urusan klinik.

“Masa gitu aja kamu nggak bisa tangani Wi?”

“Bukan begitu bu, Ibu Firda maunya ditangani sama ibu…”

“Kamu tau khan ini bulan puasa. Sebelas bulan yang lalu kita diberi kesempatan untuk cari uang. Sekarang bulan ramadhan, bulan puasa, bulan untuk cari pahala. Pinter pinternya kamu lah cari alasan ke ibu Firda….Sudah, saya mau masak untuk buka dulu”

Kalau sudah begini, siapa yang mau membatah ibu bidan, wanita karir yang selalu menyebut dirinya menomor satukan keluarga.

“Halo halo… Wi,  jangan suruh bu Firda pindah klinik yah.Bujuk supaya dia mau melahirkan disitu saja. Itu untuk THR kamu bertiga. Klik!”

Setiap hari ada saja pasien yang pulang dengan kecewa. Mereka ingin ditangani oleh ibu bidan, bukan yang lain. Ibu bidan memang orang yang hebat. Wajahnya sangat ramah dan perhatian kepada setiap pasiennya. -Tapi tidak kepada kami para perawat-. Tangannya sangat dingin. Banyak asien yang puas ditangani oleh ibu bidan. Batuk, meriang sampai gatal gatal langsung hilang kalau sudah diperiksa dan diberi obat  oleh ibu bidan. Mereka yang kenal baik dan menjadi langganan klinik ini, tidak mau ditangani oleh kami para perawat. Jangan ditolong persalinannya, untuk imunisasi pun mereka berat menyerahkan bayi mereka untuk kami suntik. Kecuali untuk ganti popok bayinya, mereka dengan ringan hati mempersilahkan. Keterlaluan!

Tapi tidak semua pasien bersikap begitu kepada kami. Pasien pasien yang anti kami biasanya pasien yang ekonominya mapan atau yang mempunyai fasilitas kesehatan di kantor tempat mereka bekerja.. Tandanya jelas sekali, mereka sering tersenyum kepada kami mengingatkan untuk membuatkan kwitansi biaya pengobatan.

Masalah seperti ini tidak akan terjadi pada pasien pasien yang tidak mampu. Salah satunya si tukang bakso…

Ia datang dua hari menjelang lebaran dengan luka sobek di lengan kirinya. Jam 7 lebih 5 menit, saat azan isya selesai dikumandangkan dari masjid di belakang klinik, seorang ibu berbadan tambun mengetuk pintu klinik dengan tenaga penuh. Aku kira ada yang mau melahirkan. Melihat pintu terbuka, ibu yang berbadan tambun itu segera melangkahkan kakinya masuk ke ruangan. Aku masih heran saat tubuhku terpaksa mengalah menyingkir ke belakang, mempersilahkan tubuh besar itu melewati pintu. Setelah si ibu itu masuk, aku baru lihat ada laki laki yang berjalan di belakangnya. Aku melihat darah menetes dari tangan kirinya.

Ternyata mereka adalah tetangga samping kontrakan. Umur si ibu aku taksir sekitar 50 tahun. Dari awal hingga mereka pamit pulang, ia tidak berhenti bercerita. Darinya aku tahu banyak siapa pasien yang berada di depanku

Namanya Margo, pekerjaanya tukang bakso keliling. Rencananya, besok pagi pagi sekali, ia mau pulang ke kampong halamannya Madiun. Menurut cerita si ibu, anak istrinya tinggal di kampung. Malam itu, sebenarnya akan menjadi malam terakhir ia mengumpulkan uang dengan berjualan bakso di bulan ramadhan. Hari yang naas, belum ada satu pun yang beli, gerobaknya tersandung balok dan terguling. Puluhan daging bulat itu jatuh ke jalan raya berhamburan kesana kemari. Kuah baksonya ludes terbuang, dan kompornya pun meledak.

Mendengar cerita ibu berbadan tambun itu, aku menanggapinya biasa-biasa saja. Kata ibu bidan, sebagian pasien memang pandai mengarang cerita pilu. Tujuannya cuma satu, membuat petugas medis iba lalu meringankan biaya pengobatanya.

Si ibu kembali bercerita tentang Margo. Tentang kehidupan sehari hari Margo yang sangat prihatin. Penghasilannya sebenarnya lumayan, tapi sebagai anak yang tertua, Margo harus menanggung nafkah ibu dan adik adiknya di kampung, belum lagi istri dan anak anaknya.. Uang hasil jualan baksonya hampir tidak pernah ia nikmati. –Hmm, dari mana ia ini tau sejauh itu tentang tetangganya?-  Si ibu mengaku dititipkan uang untuk biaya pengobatannya. “Cuma  dua puluh ribu suster. Ini uang terakhir yang Margo punya. Andai saja gerobaknya tidak terguling, mungin ia akan dapat uang malam ini. ”. Aku terpana melihat uang yang kumal yang kini sudah berada di atas meja. Pelan pelan pandangan aku alihkan ke arah si tukang bakso. Ia tertunduk dalam, meringkuk, mencoba menekuk nekuk tubuhnya agar tidak terlihat olehku. Aku heran, apa yang ia sungkankan dariku wahai tukang bakso. Aku pun miskin. Dengan jam kerja 24 jam, aku hanya dibayar dua ratus lima puluh ribu. Itu belum termasuk potongan potongan kalau aku melakukan kesalahan yang menurut ibu bidan fatal. Ya, sekali lagi, menurut ibu bidan saja. Adikku banyak, sekolah semua. Tidak terbayang girangnya ibuku saat tanggal muda. Dengan senyum malu malunya ia akan bertanya apakah aku sudah gajian. 

“ Lukanya lumayan lebar yah pak. Harus dijahit…” Si bapak tukang bakso itu masih tertunduk. Perlahan ia angkat wajahnya dan berkata sangat pelan,

“ Uang saya hanya sedikit suster” Margo mengangkat wajahnya.

Hanya beberapa detik aku menatapnya.. Tiba tiba aku mersa pilu.Aku melihat ada kabut tipis di matanya. Bukan, kabut tipis itu bukan katarak. Aku melihat kesedihan yang begitu dalam dari laki laki kurus berkulit bersih ini. 

Aku amati lemari kaca berisi puluhan ampul cairan obat. Semua tercatat dengan baik keluar masuknya obat. Pandangankku tertuju pada deretan ampul yang ada di sudut lemari. Aku mulai berhitung. Aduh, pasti tidak akan cukup uang si bapak untuk membayar obat biusnya. Belum lagi ia harus diberi antibiotik setelah dijahit. Kalau aku beri dengan cuma cuma, ibu bidan pasti akan tahu, gajiku bisa dipotong. Tidak bisa, gaji bulan ini tidak boleh dipotong lagi. Dua hari lagi lebaaran, aku sangat butuh uang untuk sedikit memeriahkan hari itu.

“Ehem. Pak, bapak kuat kalau tidak dibius? “ Aku memutuskan untuk tidak dibius saja. Aku bisa mengalihkan perhatiannya terhadap rasa sakit dengan obrolan ringan.

“Tidak apa suster”

Tanganku mulai bekerja.

Sudah berapa lama di Jakarta pak?. Hmm sekitar 2 tahun sus. Aduh…Sudah berapa putranya pak. Dua. Istri bapak juga berdagang? -Si bapak terdiam.Matanya terpejam. Aku tahu ia pasti lagi kesakitan-.

“Istri dan anaknya ada di Solo sus,” Si ibu tetangga bapak tukang bakso itu menyahut. “Dulu sih tinggal disini, tapi nggak kuat. Di Jakarta apa apa mahal katanya”

 “Oo.. begitu. Sudah sekolah anaknya pak?” si tukang bakso itu tetap diam. Mungkin ia sangat kesakitan. Aku lihat mata si tukang bakso itu masih terpejam. Tapi bulu matanya basah. Tiba tiba bibirnya bergetar dan bulir bening yang sepertinya ia tahan dari tadi pun mengalir pelan pelan ke pipinya. Aku panik, takut pasienku pingsan karena tidak tahan sakit. Untunglah luka ditangannya tinggal membutuhkan satu jahitan lagi.

Suasana ruang periksa jadi hening. Si ibu itu pun ikut diam. Padahal aku menunggu cerita selanjutnya mengapa sesedih itu Margo menangis. Sampai mereka pamit pulang pun mereka tetap diam. Akhirnya, si ibu itu merogoh kantongnya sendiri untuk menambah biaya pengobatan. Itu sebenarnya juga masih kurang. Tapi biarlah, gajiku akan dipotong lagi.

“Wis le, sing sabar sing sabar…”bisik ibu berbadan tambun itu kepada Margo.  

Aku memang tidak mengenal siapa si bapak tukang bakso dengan ibu tetangganya itu. Ini pertama kali aku bertemu dengan mereka. Bila benar kata ibu bidan mereka berakting hanya untuk meringankan biaya pengobatan, maka aku nyakin mereka adalah aktor dan aktris yang sangat hebat. Dedi Mizwar harus tahu bakat mereka. Karena wajah si tukang bakso itu begitu tulus. Sorot matanya yang teduh terbanyang ia sosok yang sering mengalah. Entahlah mengalah untuk apa atau siapa. Mungkin mengalah dengan nasib. Memang, nasib terkadang begitu melelahkan untuk dilawan. Sedangkan wajah si ibu tetangganya itu begitu keibuan. Air mukanya begitu terlihat kalau ia peduli.

Sampai sekarang, setiap aku melihat tukang bakso keliling, aku selalu ingat wajah Margo dan ibu tetanggannya. Entahlah, apakah sekarang mereka masih mengingat wajahku bila mereka melihat seorang perawat …

Kendari, 17 Desember 2008