Tags

, ,

Oleh: Syamsul Arifin

 

Killed by your love OR killing for your love..?

Terbunuh disebabkan cinta ATAU membunuh untuk cinta..?

 

Berapa banyak dari kita yang rela berkorban untuk memperjuangkan-meraih-menjaga rasa cinta? Rela dan tanpa pamrih mengorbankan harta bahkan menyerahkan kepemilikan terbesar dalam dirinya, nyawa, demi sebuah cinta..?

 

Di waktu perang Uhud, Imam Bukhari meriwayatkan bahwa ketika orang-orang meninggalkan Nabi SAW sewaktu keadaan mulai genting karena pemanah di bukit tidak mau mengikuti perintah Rasulullah sehingga menyebabkan musuh bisa menyerang lewat belakang, para sahabat-sahabat menjadi perisai hidup bagi Rasulullah dari desakan panah-panah kaum musyrikin, Abu Thalhah adalah seorang pemanah ulung dan selalu tepat mengenai sasarannya. Setiap anak panah yang dilepaskan olehnya ke arah kaum Musyrikin selalu diamati oleh Rasulullah saw, pada sasaran manakah anak panah itu menancap. Kemudian Abu Thalhah berkata: “Demi ayah dan ibuku, yang menjadi tebusanmu, tak usahlah anda mengamatiku nanti terkena panahan musuh. Biarlah mengenai leherku asalkan lehermu selamat.“

 

Abu Dujanah melindungi Nabi saw dengan dirinya, sementara panah-panah musuh bertubi-tubi menghujam di punggungnya. Demikian pula Ziyad bin Sakan. Ia memayungi Rasulullah saw dengan dirinya sampai gugur bersama lima orang sahabatnya. Menurut riwayat Ibnu Hisyam orang yang terakhir gugur melindungi Nabi saw hingga roboh karena luka yang mengenainya, lalu Rasulullah saw berkata: “Dekatkanlah dia kepadaku.“ Kemudian diletakkan kepalanya di atas kaki beliau dan akhirnya ia menghembuskan nafasnya yang terakhir berbantalkan kaki Rasulullah SAW.

 

Cinta Allah dan Rasul-Nya

 

Sudah seberapa besarkah cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya, apakah kita lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi apapun di dunia ini, termasuk nyawa kita sendiri..?

 

Tidaklah cukup seseorang mendakwakan diri beriman kepada masalah-masalah aqidah yang harus diimani, sebelum hatinya juga dipenuhi oleh cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu Rasulullah SAW bersabda:

 

“Tidaklah beriman seseorang di antara kamu, sehingga aku lebih dicintainya daripada hartanya, anaknya, dan semua manusia.“ (HR Muttafa‘alaihi)

 

Akhir Zaman, Lemahnya Cinta kepada Allah dan Rasulullah

 

“Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian seperti menyerbu makanan di atas piring. Berkata seseorang: Apakah karena sedikitnya kami waktu itu? Beliau bersabda: Bahkan kalian pada waktu itu banyak sekali, akan tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Alloh mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn. Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau bersabda: Mencintai dunia dan takut mati”. (HR Abu Dawud)

 

Perjuangkanlah rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, sampai maut mencabut ruh, sampai kematian menghentikan langkah kaki, sampai desah nafas dan denyut jantung berakhir di dalam perjalanan mencari keridhoan-Nya.

 

Di bab Perang Uhud, buku Sirah Nabawiyah, Dr. Muhammad Sa’id Ramadhani Al-Buthy menuliskan hal berikut ini,

 

[start kutipan]

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Nabi saw bersabda kepada para sahabatnya:

“Siapa di antara kalian yang bersedia mencari berita untukku tentang keadaan Sa‘ad bin Rabi? Masihkah ia hidup atau sudah matikah?”

 

Salah seorang Anshar menyatakan kesediaannya, kemudian pergi mencari Sa‘ad bin Rabi. Akhirnya Sa‘ad ditemukan dalam keadaan luka parah, sedang menanti datangnya ajal. Kepadanya orang Anshar itu memberitahu: “Aku disuruh Rasulullah saw untuk mencari engkau, apakah engkau masih hidup atau telah mati…“

 

Sa‘ad menjawab: “Beritahukan kepada beliau, bahwa aku sudah mati, dan sampaikanlah salamku kepada beliau. Katakan kepada beliau, bahwa Sa‘ad bin Rabi menyampaikan ucapan kepada anda (yakni Rasulullah SAW): Semoga Allah SWT melimpahkan kebajikan sebesar-besarnya atas kepemimpinan anda sebagai seorang Nabi yang telah diberikan kepada ummatnya! Sampaikan juga salamku kepada pasukan Muslimin, dan beritahukan bahwa Sa‘ad bin Rabi berkata kepada kalian:

 

“Allah tidak akan memaafkan kalian jika kalian meninggalkan Nabi SAW, sedangkan masih ada orang-orang hidup di antara kalian.“

 

Orang Anshar itu melanjutkan ceritanya: “Belum sampai kutinggalkan, Sa‘ad pun wafat. Aku lalu segera menghadap Nabi saw dan kusampaikan kepada beliau pesan-pesannya.”

           

Jika cinta seperti ini telah menyelinap dan bertahta di dalam hati setiap diri kaum Muslimin pada hari ini, sehingga menjauhkan mereka dari syahwat dan egoisme mereka, dapatlah saya katakan: “Saat itulah kaum Muslimin akan tampil sebagai generasi baru dan mampu merebut kemenangan merka dari benteng-benteng kematian, serta mengalahkan musuh-musuh mereka betapapun rintangan yang harus dihadapinya.”

[end kutipan]

 

Bukti Cinta yang Dituntut di Era Modernitas

 

Meskipun Rasulullah SAW tidak hidup bersama-sama kita, bukan berarti kita bisa mengaku-ngaku saja cinta kepadanya. Perlu ada bukti dari setiap ucapan, perlu ada wujud dari setiap perkataan.

 

Buktikan rasa cinta kita kepada Allah dan Rasulullah SAW dengan mempelajari al-Quran dan sunnahnya, memahami kandungannya, mentadaburi sejarahnya, dan mengamalankannya –sebisa kita- dalam kehidupan sehari-hari.

 

Semoga di akhirat kelak, Allah SWT mengumpulkan kita dengan Rasulullah SAW, orang yang kita harapkan balasan cintanya.

 

Hadits riwayat Anas bin Malik RA: Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah SAW: “Kapankah kiamat itu tiba?” Rasulullah SAW bersabda: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?” Lelaki itu menjawab: “Cinta Allah dan Rasul-Nya.” Rasulullah SAW bersabda: “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai” (HR Muttafa‘alaihi)

 

Sumber :

http://www.warnaislam.com/kajian/sirah/2009/4/13/2040/Mati_Terbunuh_Karena_Cinta.htm