Tags

, , ,

Ulang tahun, dalam bahasa Inggris : Birthday. Bila diartikan per kata menjadi: hari lahir, padahal yang diperingati itu biasanya tanggal lahirnya dan harinya setiap tahun hampir pasti tidak selalu sama maka seharusnya istilahnya menjadi ‘Birthdate’. Bukan begitu? Untung saja, dalam bahasa Indonesia, disebutnya Ulang Tahun, gak jadi masalah🙂

Berdasar hasil searching di internet, tradisi pesta ulang tahun berawal dari Eropa, yang menurut mereka, dengan pesta tersebut dapat menghindarkan gangguan roh jahat yang akan datang setiap ulang tahun seseorang. Benar-tidaknya kisah ini, Allah yang Maha Tahu.

Dalam perkembangannya, ulang tahun diakui tidak lagi dengan motif awal tersebut, tetapi lebih karena rasa syukur kepada Tuhan atas bertambahnya usia. Demikian juga peristilahannya tidak lagi terbatas pada ‘pesta  ulang tahun’, muncul juga istilah ‘kue ulang tahun’, ‘lilin ulang tahun’, ‘topi ulang tahun’, ‘hadiah ulang tahun’, dll.

Tiap istilah pun punya cerita masing-masing. ‘Kue Ulang tahun’ katanya berawal dari masyarakat Yunani yang bertujuan sebagai persembahan buat Dewa Artemis. ‘Topi Ulang Tahun’ mulai muncul ketika para Raja Inggris ikut merayakan ulang tahunnya. ‘Lilin Ulang tahun’ katanya untuk menerangi kehidupan yang berulang tahun. Khusus untuk lilin ulang tahun, ada anggapan –yang mungkin masih ada sampai sekarang- bila mampu meniup lilin salam satu kali tiupan maka merupakan pertanda baik.

———————————————————————————————-

Sewaktu kecil, saya sangat senang setiap ada acara ulang tahun teman, selalu ada kemeriahan, ada hadiah, ada kue-kue beraneka ragam. Meskipun jujur saja saya sama sekali belum pernah mengadakan pesta ulang tahun. Lha, tidak pernah dibuatkan acara sama orangtua, sayapun tidak pernah berani untuk meminta dirayakan.

Memang, merayakan Ulang Tahun pada saat itu masih menjadi hak untuk keluarga berpunya dan mempunyai kelebihan harta. Biasanya, mereka membuat sedikit jamuan di rumah, kumpul-kumpul, nyanyi-nyanyi (lagu wajib: Happy Birthday to You). Bagian paling mengasyikkan bagi yang punya hajatan: membuka hadiah satu persatu.

Bagi  yang kurang mampu, ulang tahun tidak perlu dirayakan, tetapi tidak berarti dilupakan. Sekadar mengucapkan ulang tahun dari orang tua ke anak, dari saudara ke saudara. Yang berulang tahun pun senantiasa berharap dan menunggu diberi ucapan ulang tahun. Rasanya senang sekali diberi ucapan selamat.

Sampai menginjak usia remaja, saya pun masih selalu berharap orang-orang terdekat memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada saya. Tanpa hadiah?, ah tidak masalah…. Mungkin, karena saya (dulu) menganggap itu sebagai bentuk perhatian.

Barulah belakangan ini, saya sudah tidak begitu peduli dengan ulang tahun saya, memperingatinya, merayakannya ataupun berharap diberi ucapan selamat ulang tahun –dalam arti sesungguhnya-. Kalo diberi hadiah ulang tahun? Itu beda hal, harus tetap diterima…hehehe….

Demikian juga dengan keluarga dan teman-teman saya, -bila tidak kepepet- saya tidak akan ucapkan selamat ulang tahun. Anak saya tidak saya biasakan merayakan ulang tahun. InsyaAllah saya bisa menyayangi mereka dengan cara  yang lain. Teman-teman yang ulang tahun beli makanan? Ya.. ikut makanlah… Mau enaknya saja? Terserah penilaian anda…🙂

Ya, karena tidak ada yang istimewa dari ‘Ulang Tahun’. Sama persis dengan perayaan tahun baru. Toh, umur kita –yang sudah ada jatahnya itu- seiring pertambahan tahun, hakikatnya sisa umur kita yang terus berkurang. Yang ada hanyalah pergantian waktu ke waktu tanpa henti, hari, bulan, tahun berganti terus menerus. Matahari terbit di pagi hari terbenam di sore hari. Rutin dan berulang setiap hari sampai terjadinya kiamat. Tak berbeda hari yang satu dengan hari yang lainnya.

Bahkan, Saking rutinnya, seringkali sebagian kita tidak sadar bahwa ada matahari yang sedang bersinar di atas sana. Pas Matahari terasa menyengat barulah sadar ‘Matahari kok panas sekali ya..’ (emang ada matahari  yang dingin…). Saking rutinnya, seringkali sebagian kita terbuai dengan membiarkan waktu terbuang percuma tanpa hal positif yang kita lakukan dan menganggap masih ada hari esok untuk melakukan yang ingin, perlu atau harus kita lakukan.

———————————————————————————————-

Bolehkah memperingati ulang tahun? Wallahu a’lam. Kita serahkan kepada para Ulama kita yang mengetahui dalil-dalilnya. Merayakannya? Menghambur-hamburkan uang, membuat pesta tak jelas, nyanyi-nyanyi bergantian selama berjam-jam, berharap dengan satu kali tiupan lilin mendapat nasib baik, ini agaknya perlu kita pikirkan lebih jauh.

Namun sepantasnya, setiap waktu yang kita jalani -termasuk waktu ulang tahun itu- selalu kita isi dengan kebaikan, bermuhasabah –menghitung diri kita-. Saling mendoakan janganlah kita batasi di waktu-waktu tertentu saja. Mengingatkan diri masing-masing betapa hidup kita harus mampu kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk beribadah kepada-Nya.

———————————————————————————————-

13 Januari 2010 sore

Saya sudah menyiapkan sedikit oleh-oleh buat istri tercinta. Tiba di rumah, istri yang tidak biasanya liat tas saya agak ‘gembung’, segera memeriksa isinya.

Sambil senyum-senyum, berkatalah dia: “Ngasih hadiah tidak harus hari Ulang tahun kok kak, setiap hari juga boleh. Terima kasih yah sayang…”

Oalaaah…, ini ulang tahunnya toh….!