Tags

, ,

Saya sangat setuju dengan salam Majalah Hidayatullah Oktober 2012, judulnya: Cerdas Media.

Belakangan ini rasanya malas banget nonton berita di tv, terlalu terasa ketidakberimbangan beritanya, seringkali mem-blow-up berita yang tidak terlalu penting sedangkan  di sisi lain ada peristiwa yang lumayan ‘besar’ tapi hanya sekali ditayangkan atau bahkan sama sekali tidak diliput.

Belum lagi sesi dialog yang tidak jarang mengundang narasumber yang tidak kompeten dan memang di-set untuk mendukung opini sang media, yang semuanya bertujuan pengarahan opini publik demi kepentingan para pemilik dana dan media. Ada lagi, anchor cewek sekarang agak minim gitu ya pakaiannya… [?]

Supaya tidak ketinggalan berita, saya memilih membaca berita online; republika, Hidayatullah, Eramuslim, sambil tetap mengikuti selera pemberitaan detik.com dan lain-lain

Berikut kutipan rubric Salam Hidayatullah :

‘Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya…’ (Al-Hujurat [49]:6)

Joseph Gobel, juru propaganda Nazi Jerman dan Hitler pernah berkata, ‘Jika kita mengulang-ulang kebohongan sesering mungkin, maka lama kelamaan rakyat pasti mempercayai kebenaran itu sebagai kebenaran’.

Prinsip ini pernah digunakan Amerika Serikat saat menjatuhkan bom atom ke Hiroshima and Nagasaki pada perang dunia kedua beberapa puluh tahun yang lalu

Sebagai pembenaran atas pengeboman ini, Negara paman sam tersebut sebelumnya membuat scenario memancing Jepang agar mau menggempur Pearl Harbor pada 1941

Pancingan kena. Jepang tak sadar kalau mereka masuk dalam scenario yang dibuat AS. Gempuran Jepang itu justru menyebabkan dunia membenarkan tindakan AS membumihanguskan Hiroshima dan Nagasaki

Scenario ini pula yang didugakuat dilakukan AS saat tragedy WTC sekitar 11 tahun silam. Akibat ledakan ini dunia merasa perlu bekerja sama memberangus aksi terorisme di mana pun berada

Anehnya, program ini amat memojokkan umat Islam dengan syariatnya, termasuk di Indonesia. Para pejuang syariat diidentikkan dengan kaum radikal yang amat berbahaya.

Propaganda ini lama kelamaan membuat masyarakat lebih takut kepada pria berjenggot dan bercelana cingkrang ketimbang pria bertato. Lebih menaruh curiga kepada pria yang rajin sholat Dhuha ketimbang rajin nongkrong di perempatan.

Ini semua buah dari scenario yang didesain amat rapi. Scenario ini tentu saja melibatkan media massa. Tanpa media, scenario ini takkan ‘ditonton’ oelh masyarakat. Survey yang dilakukan BBC dan Reuters pada tahun 2006 di 10 negara, termasuk Indonesia, menunjukkan media lebih dipersaya dari pada pemerintah.

Ini fakta bahwa peran media amat besar dalam membangun opini masyarakat. Apalagi bila media dan pemerintah saling mendukung opini tersebut. Opini y ang dibangun akan jauh lebih kuat.

Oelh karena itu, msyarakat harus cerdas menelaah informasi yang disajikan media. Masyarakat harus ‘cerdas media’. Bagaimana caranya?

Manakala ada orang fasik membawa berita, firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam Al-Quran surat Al-Hujurat ayat 6, janganlah langsung dipercaya. Lakukan klarifikasi terlebih dahulu. Inilah cerdas media.

Siapa orang fasik itu? Para ulama menafsirkan, orang-orang fasik adalah orang-orang kafir, munafik dan mereka ang gemar melakukan dosa-dosa besar .

Dalam konteks media massa, sifat fasik ini bisa disematkan pada dua hal. Pertama, kepada narasumber yang diwawancarai media tersebut. Kedua, kepada media yang menyebarkan berita itu sendiri.

Kepada merekalah kita harus berhati-hati. Informasi yang disampaikan mereka jangan ditelan mentah-mentah. Selalu ada misi di balik berita yang mereka sebarkan. Walahu a’lam

*) Judul rubrik Salam Majalah Hidayatullah Oktober 2012